Prediksi Gas Metana, Karbon Dioksida dan Hidrogen Sulfida dalam Sampah Organik di TPA Talangagung Kabupaten Malang
DOI:
https://doi.org/10.33474/ejbst.v12i1.434Abstract
Penelitian ini bertujuan menghitung lama TPA Talangagung Kabupaten Malang melakukan running system berdasarkan sisa lahan, memprediksi timbunan sampah dan produksi gas metana, karbon dioksida dan hidrogen sulfida yang timbul akibat proses fermentasi anaerob dari TPA Talangagung Kabupaten Malang. Sampah merupakan buangan dari sumber aktivitas manusia atau proses alam yang belum memiliki nilai ekonomi pada aspek lingkungan. Tumpukan sampah semakin menjulang dikarenakan kebutuhan pokok semakin tinggi. Pemanfaatan limbah menjadi biogas yang layak digunakan secara teknis, ekonomis, dan sosial terutama untuk mengatasi masalah energi.Sebagian besar biogas mengandung gas metana (CH4), karbon dioksida (CO2), dan kandungan yang jumlahnya yang sangat kecil seperti hidrogen sulfida (H2S), nitrogen sulfur, dan amonia (NH3) serta hidrogen (H2). Biogas dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-sehari yang ramah lingkungan bagi masyarakat. Penelitian ini menganalisis upaya pencegahan emisi gas rumah kaca melalui pemanfaatan gas metana sebagai biogas. TPA diperkirakan dapat melakukan running system sekitar 48-64 tahun kedepan. Untuk mengetahui prediksi timbunan sampah yaitu dengan menggunakan regresi linier dari data tahun 2018-2020, hasil regresi linier diperkirakan 1 tahun kedepan mengalami kenaikan sebesar 6 %. Hasil pengamatan gas pada landfill selama 1 bulan yaitu dengan nilai rata-rata 2.793m3 dan hasil dari LandGEM pada tahun 2021 yang konversikan ke dalam hari yaitu sebesar 2.668 m3 , maka kita dapat memprediksi biogas dengan LandGEM. Prediksi gas metana, karbon dioksida dan hidrogen sulfida dari hasil LandGEM setiap tahunnya mengalami kenaikan terhadap biogas. Di tahun 2022 diperkirakan biogas sebesar 1.115.169 m3, tahun 2023 sebesar 1.262275 m3, tahun 2024 sebesar 1.415.166 m3, tahun 2025 sebesar 1.573.617 m3, tahun 2026 sebesar 1.737.410 m3, tahun 2027 sebesar 1.906.335 m3, tahun 2028 sebesar 2.080.191 m3, dan di tahun 2029 sebesar 2.258.784 m3. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi naiknya biogas, tetapi komposisi sampah, volume sampah, iklim, dan musim menjadi sangat penting.
References
D. Winahyu, S. Hartono, and Y. Syaukat, “Strategi pengelolaan sampah pada tempat pembuangan akhir Bantargebang, Bekasi,” Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah, vol. 5, no. 2, pp. 1–17, 2013.
W. Purwanta, “Penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor sampah perkotaan di Indonesia,” Jurnal Teknik Lingkungan, vol. 10, no. 1, pp. 1–8, 2009.
Armi and D. Mandasari, “Pengolahan sampah organik menjadi gas metana,” Serambi Saintia, vol. 5, no. 1, 2017.
S. A. Felix, P. Salim, and D. Ikhsan, “Pembuatan biogas dari sampah sayuran,” Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, vol. 1, no. 1, pp. 103–108, 2012.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Dinda Prasisca Widyatama, Sama' Iradat Tito, Saimul Laili

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



