Pola Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa untuk Retting-Embun Serat Kasar pada Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata) The Growth Pattern of Pseudomonas aeruginosa for Bioretting of Crude Fiber in Sansevieria trifasciata

Main Article Content

Eka Prasetyowati
Ahmad Syauqi
http://orcid.org/0000-0003-2168-2031
Tintrim Rahayu

Abstract

Sansivieria trifasciata has a cell wall consisting of high cellulose components which are reinforced by lignin, pectin and hemicellulose. Separation of fibers from bonds that strengthen fibers is still a major problem because the cell walls that are owned are very strong and stiff. In the activity of separating selolusa fiber there needs to be a process called retting. Residues from the retting process with chemicals can pollute the environment, separation by mechanical means produces fibers that are still rigid, and with soaking requires a lot of water and causes odor. The purpose of this study is how long the Pseudomonas earuginosa used can show cell proliferation; get a graph of growth patterns in Sansevieria trifasciata leaf preparations by adding nutrients and fiber quality from dew retting. This study uses an experimental method; there are 2 treatments, namely the addition of nutrition and without nutrition with 6 replications time 5 days, 10, days, 15 days, 20 days and 30 days. The results of this study were the number of treated cells with the addition of nutrients and without the addition of nutrients experiencing the lag phase of the 5th to 10th day and the exponential phase starting from the 10th day to the 30th day. Pseudomonas aeruginosa can soften the cell wall with dew-retting ability obtained by 3.0 nutritional treatment scores and a score of 1.5 treatments without nutrition. In the regression analysis  ≥ , where there is a significant influence between the number of cells per unit and the addition of nutrients and without the addition of nutrients.


Keywords: Growth Pattern, Pseudomonas aeruginosa, Coarse Fiber and Sansevieria trifasciata


ABSTRAK

Sansivieria trifasciata memiliki dinding sel yang terdiri dari komponen selulosa tinggi yang diperkuat oleh lignin, pektin dan hemiselulosa. Pemisahan serat dari ikatan yang memperkuat serat masih menjadi masalah utama karena dinding sel yang dimiliki sangat kuat dan kaku. Dalam kegiatan pemisahan serat selolusa perlu adanya proses yang dinamakan retting. Residu dari proses retting dengan bahan kimia dapat mencemari lingkungan, pemisahan dengan cara mekanik menghasilkan serat yang masih kaku, dan dengan perendaman membutuhkan air yang cukup banyak serta menimbulkan bau. Tujuan dari penelitian ini adalah berapa lama Pseudomonas earuginosa yang digunakan dapat menunjukkan perkembangbiakan sel, mendapatkan grafik pola pertumbuhan pada sediaan daun Sansevieria trifasciata dengan penambahan nutrisi dan kualitas serat dari retting-embun. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, terdapat 2 perlakuan yaitu penambahan nutrisi dan tanpa nutrisi dengan 6 ulangan waktu 5 hari, 10, hari, 15 hari, 20 hari dan 30 hari. Hasil dari penelitian ini jumlah sel perlakuan dengan penambahan nutrisi dan tanpa penambahan nutrisi mengalami fase lag hari ke-5 sampai hari ke-10 dan fase eksponensial dimulai dari hari ke-10 sampai hari ke-30. Pseudomonas aeruginosa dapat melunakkan dinding sel dengan kemampuan retting-embun diperoleh skor 3,0 perlakuan nutrisi dan skor 1,5 parlakuan tanpa nutrisi. Pada analisa regresi  ≥ , dimana adanya pengaruh yang signifikan antara jumlah sel setiap unitnya dengan penambahan nutrisi dan tanpa penambahan nutrisi.


Kata kunci: Pola Pertumbuhan, Pseudomonas aeruginosa, Serat Kasar dan Sansevieria trifasciata

Article Details

How to Cite
Prasetyowati, E., Syauqi, A., & Rahayu, T. (2019). Pola Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa untuk Retting-Embun Serat Kasar pada Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata). BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC), 5(1), 59-66. Retrieved from http://biosaintropis.unisma.ac.id/index.php/biosaintropis/article/view/289
Section
Article (Makalah)

References

[1] Musanif, S. 2011. Karakterisasi Serat Daun ‘RZ’ (Sansevieria Trifasciata Prain) Sebagai Material Penguat Komposit Berbasis Serat Alam. Jurnal Teknik Mesin. Vol. 1(2):1-4

[2] Putera, R.D.H. 2012. Ekstrasi Serat Selulosa Dari Tanaman Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Dengan Variasi Pelarut. Sripsi. Program Studi Teknik Kimia Fakutas Teknik Universitas Indonesia. Depok

[3] Cambell, N.A., and Reece, J.B. 2008. BIOLOGI (Penerjemah: Wulandari, D.T) Edisi Kedelapan, Jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta

[4] Rahayu, F., Sudjindro, dan Budi, U.S. 2010. Seleksi dan pengujian potensi bakteri Indigenous air rendaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) sebagai baktei selulolitik, pektinolitik, dan lignolitik. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri. Vol 2 (2): 81-87

[5] Budiyanto, M.A.K. 2004. Mikrobiologi Terapan. UMM PRESS: Malang

[6] Makkadafi, S.P., Hastuti, U.S., Hanzen, WF.E., Asna, PM.AL., dan Febriana. 2017. Isolasi DAN Identifikasi Bakteri Selulolitik dan Pektinolitik dalam Limbah Kulit Singkong Pabrik Tapi di Bndowoso, Jawa Timur. Prosiding Seminar Nasional III Tahun 2017 UMM: Malang

[7] Syauqi, A. 2007. The Unique Carbohydrate Acting Enzyme from sinergystic Fungi in Metagenomic Era. DOI:10.1340/RG.2.2.36620.92800. URL: https://www.researchgate.net.

[8] Syauqi, A. 2015. Biostatistika Kuatifikasi Parameter Statistika Survey dan Eksperimen Biologi. FMIPA Universitas Islam Malang. Malang.

[9] Repeckiene, J., and Jankauskiene, Z. 2009. Application of Fungal Complexes to Improve Flax Dew-Retting. Institute of Botani. Lithuanian Institute of Agriculture. Vol 83 (36): 63-71

[10] Nurhajati, T., Soepranianondo, K., dan Lokapinarsari, W.P. 2011. UJI Aktifitas Pertumbuhan Enterobacter cloaceae Selulolitik Aerob Rumen-1 Isolat Asal Limbah Cairan Rumen Sapi Peranakan Ongole. Jurnal Veteriner. Vol 17(3): 383-388

[11] Wuryanti., Mulyani, N.S., Asy’ari, M dan Sarjono, P.R. 2010. Uji Ekstrak Bawang Bombay sebagai Anti Bakteri Gram Positif Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Cakram. BIOMA. Vol 12(2): 69-73

[12] Sutrian,Y. 2004. Pengantar Anatomi Tentang Tumbuhan (Tentang Sel dan Jaingan). PT. RINEKA CIPTA. Jakarta.

[13] Yudhanto, F. 2016. Proses Pembuatan Plastik Biodegradable Dari Bahan Selulosa Serat Alam (Agave sisalana) dan Chitosan. Penelitian Dosen Muda. Program Studi Teknik Otomotif dan Manufaktur. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: Yogyakarta

[14] Michael, J.P. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Penerbit Universitas Indonesia UI-Press: Jakarta.

[15] Roy, B. 2004. Fundamental Food Microbiology. CRC Press: Boca Raton