Studi Etnozoologi Ikan Hias Kelompok Nelayan Samudera Bakti Desa Bangsring Wongsorejo Banyuwangi Ethnozoology Study about Ornamen Fish of the Samudera Bakti Fisherman Group in Bangsring Wongsorejo Banyuwangi

Main Article Content

Tika Anggraini
Hasan Zayadi
Hari Santoso

Abstract

Indonesia is a maritime country that has the potential of marine ornamental fish is quite large. The management of marine natural resources has been widely developed by fishermen. This study aims to determine the types of ornamental fish caught by Samudera Bakti fisherman group and the ornamental fishing process. The method used is qualitative descriptive with field observation, interview and identification of ornamental fish. The results of this study fisherman catch ornamental fish on Monday - Friday by using tools nets, scoop net and compressor as a breathing apparatus. Fishermen catch fish in the dry season while the rainy season does not catch. The captured fish species consisted of 35 species belonging to 16 families and new species. Environmental management is done that is catching fish according to size and amount that have been determined, not damage and step on coral reef. Abstinence when catching ornamental fish is not to dispose of hot water and ‘sambel’ (chillies paste) into the sea water because fishermen believe it can reduce the sustenance. If the ornamental fish begin to decrease the Bangsring fishermen perform a ritual in the form of offerings i.e 7 Flowers, 7 traditional foods, red-white of ‘jenang’ (red-white porridge) with grated coconut and incense, placed on the boat when catching ornamental fish.


Keywords: Ethnozoology, Ornamental Fish, Ornamental fishing


ABSTRAK

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai potensi ikan hias laut cukup besar. Pengelolaan sumberdaya laut peisisir telah banyak dikembangkan oleh nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis – jenis ikan hias yang ditangkap oleh kelompok nelayan Samudera Bakti dan proses penangkapan ikan hias. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan observasi lapangan, wawancara dan identifikasi ikan hias. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nelayan menangkap ikan hias pada hari senin – jumat dengan menggunakan alat jaring, serok dan kompresor sebagai alat bantu pernapasan. Nelayan menangkap ikan pada musim kemarau sedangkan musim hujan tidak menangkap. Jenis – jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan Bangsring terdiri dari 34 spesies yang termasuk dalam 14 famili dan 1 spesies baru. Nelayan menangkap ikan hias sesuai dengan ukuran dan jumlah yang sudah ditentukan, tidak merusak dan menginjak terumbu karang, hal ini dilakukan untuk menjaga diversitas ikan hias dan keseimbangan ekologi laut. Pantangan pada saat menangkap ikan hias adalah tidak boleh membuang air panas dan sambel ke dalam air laut karena nelayan percaya dapat mengurangi rezeki. Jika ikan hias mulai berkurang nelayan bangsring melakukan sebuah ritual berupa sesaji yaitu Bunga 7 rupa, jajanan pasar 7 rupa, jenang merah putih dengan parutan kelapa dan dupa, yang ditaruh diatas kapal saat menangkap ikan hias.


Kata kunci: Etnozoologi, Ikan Hias, Penangkapan Ikan Hias

Article Details

How to Cite
Anggraini, T., Zayadi, H. and Santoso, H. (2017) “Studi Etnozoologi Ikan Hias Kelompok Nelayan Samudera Bakti Desa Bangsring Wongsorejo Banyuwangi”, BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC), 3(3), pp. 61-67. doi: 10.33474/e-jbst.v3i3.161.
Section
Article (Makalah)

References

[1] Hayati, A, Aruminingtyas, E. L. Indriyani, S dan Hakim, L. 2016. Local Knowledge of Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) in East Java, Indonesia. International Journal of Current Pharmaceutical Revies and Research 7(4): 210 – 215.

[2] Sodirun, F., Hayati, A dan Zayadi, H. 2016. Persepsi Masyarakat Tradisional Pulau Mandangin Kabupaten Sampang Madura terhadap Tanaman Mimba (Azadiracahta indica juss). e_Jurnal ilmiah BIOSAINSTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 2(1):11-18. Diterima 8 Juli 2017. URL: http://biosaintropis.unisma.ac.id/index.php/biosaintropis/article/view/69/28

[3] Bahriyah, I., Hayati, A. dan Zayadi, H. 2015. Studi Etnobotani Tanaman Kelor (Moringa oliefera) di Desa Somber Kecamatan Tambelengan Kabupaten Sampang Madura. e_Jurnal ilmiah BIOSAINSTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 1(1): 61-67. Diterima Tanggal 7 Agustus 2017.URL: http://biosaintropis.unisma.ac.id/index.php/biosaintropis/workflow/index/147/5

[4] Jumari. 2012. Ethnobiologi Masyarakat Samin. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

[5] Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir Dan Laut. surabaya: Briilian internasional.

[6] Lopes, A. F., Bozelli, R. L., dan Lopes, A. F. 2014. The ethnoecological knowledge of fishermen from three coastal lagoons in the northern of the State of Rio de Janeiro, Brazil [O conhecimento etnoecol{ó}gico dos pescadores de tr{ê}s lagoas costeiras do norte do Estado do Rio de Janeiro, Brasil]. Biota Neotropica, 14(4):1–8. URL:https://doi.org/10.1590/1676-06032014003814.

[7] Silvano, R. A. M., & Begossi, A. 2012. Fishermen’s local ecological knowledge on southeastern Brazilian coastal fishes: Contributions to research, conservation, and management. Neotropical Ichthyology, 10(1):133–147. URL:https://doi.org/10.1590/S1679-62252012000100013

[8] Prasetio, K. 2012. Ikan Hias Laut Tantangan Budidaya Dan Peluang Bisnis. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias. Media Akuakultur 7(2):20-.

[9] Febri, S., Artini. N.W., dan Dewi, K.R. 2013. Kontribusi Pendapatan Nelayan Ikan Hias Terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga Di Desa Serangan. E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata Vol. 2, No. 4. ISSN: 2301-6523

[10] Arief, I. 2014. Menikmati Keindahan Bawah Laut di Ujung Timur Pulau Jawa. Retrieved Oktober 2014. URL:http://ikhonearief.blogspot.co.id/2014/10/wisata-underwater-di-banyuwangi.html.

[11] Eol.org, 2017.

[12] Aldrian, E. (2008). Meteorologi Laut Indonesia. Badan Meteorologi dan Geofisika. Jakarta

[13] Fahmi, M. R. 2010. Phenotypic Platisity Kunci Sukses Adaptasi Ikan Migrasi : Studi Kasus Ikan Sidat (Anguilla sp). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010.